Dulu, jaman-jaman baru lulus kuliah, gue sering banget ketemuan temen-temen kuliah.

Masih kangen, kali ya?

Belom bisa move on. Hehehe..

Setahun, dua tahun, setelah lulus kuliah, anggota kelompok ngalor-ngidul itu jadi makin berkurang sampe akhirnya tinggal gue sama sahabat gue Odi.

Pokoknya kita udah kayak lemak kambing di langit-langit mulut: nempeeellll bener.

Nggak cuma ketemuan di (mantan) kampus buat ngobrol dan ngapdet kehidupan kerja, tapi juga berkelana keliling Jawa cuma buat mencari jati diri.

Hahahaha, tae ah lebay banget. Cuma keliling Solo-Salatiga-Jogja seminggu sih waktu itu. Dan nggak buat cari jati diri jugaa..

Tapi akhir-akhir ini pun gue sama Odi udah jarang banget ketemu.

Sama-sama sibuk.

 

….

 

….

 

Nggak sih, yang sibuk Odi doang. Dia wanita karier bener dah, kerja mulu.

Gua mah sibuk goler-goler doang di kosan.

Hari ini, sukur alhamdulillah kita bisa kembali bertemu.

Tentu saja atas ajakan gue yang tak tahan untuk tak mencurhatkan sesuatu karena (kayaknya) gue lebih labil dari dia.

Nggak penting lo tahu apa yang gue curhatin ke dia.

Yang mau gue ceritain malah pembicaraan yang terjadi setelah curhatan itu selesai.

Seperti biasa (baca: seperti jaman ketika kita masih rajin ketemuan untuk berbagi cerita dulu), setelah inti masalah dibicarakan, sudah wajar kalo yang berikutnya terjadi adalah pembicaraan beleberan yang mengawang-ngawang, ngalor ngidul entah kemana dan kalo dirunut-runut ke awalnya, tetep gak jelas kenapa ujung-ujungnya kita bisa ngomongin hal itu.

Hal apa?

Kali ini, hal manusia.

Wesss berat nih kayaknya.

Nggak berat sih, cuma bakal panjang aja.

Jadi ayo buka lacinya, keluarkan biskuit kejunya. Mari baca post gue sambil ngemil biar nggak bosen.

Dulu, waktu gue masih sangat muda (jauh lebih muda dari kemudaan gue yang sekarang), waktu gue masih ambisius dan siap untuk melakukan apa aja demi menggapai kesuksesan dan popularitas di industri (yang gue pikir saat itu adalah) pilihan gue, gue sempet memaklumi kesongongan orang-orang hebat.

Gue pernah bilang,

Nggak pa-pa lah dia brengsek, dia emang pinter kok. Dia pantas untuk sombong.

Temen gue juga (dulu) ada yang percaya bahwa

...mungkin untuk jadi orang sukses lo perlu jadi orang nyebelin. Soalnya, coba deh lo liat orang-orang sukses itu, pada nyebelin-nyebelin bangeett..!

Tapi ketika beberapa bulan yang lalu ada temen gue yang lain yang sempet bilang hal yang sama ke gue, balasan gue cuma,

Dulu juga gue mikir gitu. Persiiiss gitu. Sekarang udah nggak.

Karena dalam perjalanan menuju 'sekarang' ini, gue ketemu orang-orang hebat yang rendah hati. Orang-orang ngetop yang ramah. Orang-orang kaya yang dermawan.

Dan gue pikir, ternyata ada tuh orang-orang yang bisa jadi jagoan tanpa perlu jadi bajingan.

Jadi sekarang gue udah nggak respek lagi sama orang-orang brengsek meskipun mereka hebat. (Apalagi kalo nggak hebat, ke laut aja lo berenang sama cewe matre!)

Menurut gue, orang-orang yang mau melakukan segala cara demi mencapai kesuksesan itu cuma orang-orang berpikiran sempit yang lupa kalo hidup itu lebih besar dari sekedar apa profesi lo di dunia.

Orang-orang yang besar kepala dengan prestasi duniawinya itu cuma orang-orang menyedihkan yang lupa kalo hidup itu lebih besar dari sekedar elu-elu dari orang lain.

Because at the end of the day, everybody dies and everybody meets God and the thing that matters the most for Him is if you were being a good person while you were alive.

It's not how much money you earned.

It's not how many trophies you won.

It's not how many people you tamed.

It's how nice you were.

It's how many good deeds you did.

It's not even how impactful it is.

It's just whether you did good things or you didn't.

Dan orang-orang itu mungkin lupa.

Karena kepalanya sudah terlalu penuh dengan obsesi-obsesi nggak sehat.

Gue inget temen gue Ijol pernah nulis bagus banget di twitter-nya:

Screen_shot_2012-01-21_at_11

So busy trying to be yourself you forget about being good.

Banyak orang sibuk mengejar kesuksesannya dengan caranya sendiri tanpa peduli pengaruh (buruk)-nya pada hidup orang lain, perasaan orang lain, sampe mereka lupa untuk jadi orang baik.

Karena mereka pikir 'menjadi diri sendiri' adalah motto terbaik dan orang lain harus menerima mereka apa adanya, like it or not.

Mereka lupa kalo ada pilihan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pribadi yang tetap mereka, hanya saja lebih baik.

Bicara soal lupa, idola gue Michelle Branch -- musisi/food lover/ChangeDinner spokesperson -- juga pernah bilang di salah satu documentary video kalo banyak orang yang lupa dengan alasan paling basic dari bekerja adalah untuk mencari makan.

Oke kalo lo bekerja untuk bayar utang, untuk menyalurkan aspirasi, (atau kata temen gue yang selalu menempatkan gue di posisi bersalah) lo kerja buat belanja-belanja. Baju, sepatu, mungkin juga gel rambut atau mobil tenaga seribu kuda.

Tapi itu semua lo lakukan setelah lo bisa makan dari duit lo.

Masalahnya, kata Mbak Michelle, orang-orang sekarang malah lebih sering mementingkan pekerjaannya daripada makan.

Mereka pergi ke drive-through biar bisa makan di jalan.

Mereka bahkan melewatkan jam makan demi meeting berkepanjangan.

Oke, bagian yang terakhir itu Mbak Michelle nggak bilang. Gue yang bilang.

Tapi intinya gitu kan?

Bahwa orang-orang suka lupa kalo ada hal yang lebih besar dari bekerja dengan obsesif.

Gue nggak bilang kerja itu nggak penting.

Gue nggak bilang menuai prestasi itu nggak penting.

Tapi semua lebih baik kalo dijalankan sesuai porsinya.

Hidup itu nggak kayak felm; ada genre-nya.

Hidup itu komedi, horor, thriller, action, suspense, drama, family, sex, career, education, documentary, musical, theatrical, entertaining, boring, depressing, domestic, foreign, fucked-up, lifting up…

Hidup itu semua-muanya.

Bukan cuma soal kerja.

Tapi juga bukan cuma soal keluarga.

Bukan juga cuma romansa.

 

Hidup itu semuanya.

 

Dan idealnya semua itu sama rata dijalani, dengan hati.

Dengan kompleksitas seperti itu, cara paling baik untuk bisa menjalani hidup mungkin ya cuma dengan jadi orang baik.

Dan orang baik dalam kehidupan nyata tidaklah seperti orang baik di sinetron, yang arti baik dan bego gak ada bedanya.

Tentu saja kita harus pinter-pinter juga bersikap.

Jadi baik bukan berarti harus pasrah atau ikhlas diinjak-injak.

Kadang-kadang kita perlu tegas dan terbuka.

Tapi tegas dan terbuka bukan juga harus ngomel-ngomel.

Semuanya harus disampaikan dengan hati-hati.

Ribet ya?

Mber.

Makanya jadi orang baik aja.

Lakukan apa yang menurut lo bener, TANPA perlu menyakiti orang lain.

Niscaya, atas ijin Tuhan, hidup lo damai.

Amin!

:p

 

 

PS.: Itu sebabnya gue gak pernah boong ngisi tanggal di voucher taksi. Karena kalo boongnya ketauan, idup gue ribet. Dan biar boongnya gak ketauan, gue mesti ngarang keboongan lain yang mana ribet juga. Dan gue sungguh musuhan sama keribetan. Jadi orang jujur aja daaah, nggak perlu pusing ngarang cerita.

PPS.: Udah abis berapa bungkus biskuit keju selama baca blog ini?